Novel 9 Summers 10 Autumns: dari kota apel ke the big apple baru selesai saya baca. Ada sesuatu dari buku ini yang ingin langsung saya tulis karena mengingatkan saya akan kisah bapak. Buku ini bercerita tentang perjalanan hidup seseorang yang penuh perjuangan di masa sekolah hingga akhirnya bisa menjadi seorang yang sukses di bidangnya. Membaca buku ini mengingatkan saya akan kisah perjuangan bapak saya jaman sekolah dulu. Kisah yang hampir sama dengan kisah penulis di masa kecilnya.
Sekelumit cerita tentang bapak. Bapak saya anak keenam dari tujuh bersaudara. Nenek saya meninggal ketika bapak masih SD karena sakit. Hidup bapak sekeluarga cukup memprihatinkan saat itu dan kakek sendirian berjuang membesarkan ketujuh anaknya. Pernah suatu kali bapak bercerita bagaimana ketika kecil dulu untuk makan saja mereka kesusahan. Bisa dalam sehari hanya makan jagung atau singkong saja karena tidak punya uang. Ketika kecil bapak tidak pernah membeli mainan atau apapun seperti anak kecil lainnya, karena bapak tahu bahwa untuk bisa hidup saja mereka harus sangat berjuang sehingga bapak tidak mau membebankan apapun pada orangtua. Bapak sangat serius dengan sekolahnya, sepulang dari sekolah bapak selalu belajar dan mengulang kembali pelajaran di sekolah. Buku adalah teman terdekat bapak saat itu. Bapak suka sekali baca buku. Dimanapun kapanpun bapak selalu membawa buku bersamanya. Ketekunan dan semangat bapak sekolah tidak sia-sia, bapak selalu berhasil mendapat ranking pertama di sekolahnya.
Penulis berkisah bagaimana pada waktu dulu mereka sekeluarga hidup dalam kesederhanaan yang kadang membuat pedih. Tak ada boneka, mobil-mobilan, sepeda, les, bahkan minta buku pelajaran pun harus diseleksi. Ketika teman-temannya mengajak berenang ataupun nonton bioskop, makan diluar atau pergi jalan-jalan maka mereka hanya bisa tinggal di rumah. Mereka juga sering tidak hadir di pesta ulang tahun karena malu, tidak bisa membawa kado. Tiba-tiba saya teringat sesuatu. Pada waktu SMA dulu, saya pernah minta ijin pada bapak untuk pergi ke acara ulang tahun teman di sebuah café. Ketika itu raut muka bapak tampak tidak senang saya pergi, sehingga akhirnya saya tidak pergi ke acara ulang tahun. Di lain kesempatan, bapak bercerita bagaimana dulu bapak tidak pernah pergi jalan-jalan dengan temannya ataupun jika ada yang mengundang acara ulang tahun di rumah teman, bapak tidak pernah datang karena malu, tidak bisa membawa kado. Duh, sedih saya mendengarnya. Walaupun terkadang saya merasa sedih karena tidak diperbolehkan pergi dengan teman-teman ataupun sekedar nonton bioskop, atau pergi ke acara ulang tahun teman namun pada akhirnya saya mencoba berpikir positif saja. Bapak selalu mengajarkan kesederhanaan pada kami dan hidup sesuai kemampuan. Tidak pernah bapak terlalu berlebihan pada anak-anaknya bahkan sampai saat ini. Walaupun mungkin bapak bisa saja memenuhi apa yang kami inginkan tetapi bapak lebih memilih untuk membeli sesuatu sesuai kebutuhan saja. Jika ada uang lebih, bapak mengajarkan pada kami untuk bisa membaginya pada saudara atau orang lain yang lebih membutuhkan. Kesederhanaan dan ingin selalu berbagi pada sesama adalah dua hal yang sangat saya ingat dari bapak sejak saya kecil hingga sekarang. Saya tahu bahwa apa yang dialami bapak di masa lalunya tidak mudah. Bapak berjuang agar bisa selalu sekolah karena bapak percaya bahwa dengan pendidikan maka bapak bisa mengubah nasibnya. Dan yaa bapak berhasil. Lulus SMA bapak diterima di kampus negeri Jember jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Ketika lulus kuliah bapak sempat bekerja di perkebunan namun takdir membawa bapak pindah haluan ke perbankan. Alhamdulillah bapak bisa menapaki karirnya di perbankan dengan sukses hingga saat ini.
Penulis sendiri berhasil dengan sekolahnya dan ketika SMA ia selalu berada di peringkat pertama di kelasnya. Hal ini membuat ia berhasil mendapatkan PMDK di IPB jurusan Statistika. By the way busway, saya juga lulusan Statistika IPB loh….ehem
Ternyata penulis adalah senior saya di IPB. Wah, makin bangga deh sama anak statistik…..hehehe. Bedanya saya dengan penulis, dia adalah lulusan terbaik fakultas MIPA tahun 1997, sedangkan saya…lulus dengan nilai lumayan laah…hihihi. Keseriusan belajar penulis membuatnya berhasil menjadi yang terbaik se-fakultas sehingga tidak kaget akhirnya ia cepat mendapat pekerjaan sesuai bidangnya sebagai statistician. Semangatnya ingin membantu orangtua dan meringankan beban keluarga membuat penulis selalu berusaha mencari yang terbaik dalam pekerjaannya. Hingga akhirnya mendapat kesempatan untuk bekerja di luar negeri dan memiliki jabatan yang membanggakan bagi seorang anak negeri. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar hingga akhirnya penulis memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Batu, Malang.
Saya salut dengan semangat dan perjuangan penulis hingga akhirnya ia bisa sukses seperti sekarang. Tentunya hal ini menjadi cambuk semangat bagi saya untuk selalu berjuang dalam hidup. Menggapai cita-cita. Meraih mimpi. Dalam segala hal. Saya yakin saya bisa mengikuti jejak suksesnya.
0 Responses to “Novel 9S10A dan kisah bapak”