21
Jul
11

Yogya – part #1

Dari beberapa waktu lalu, saya ingin sekali menjelajah kota Yogyakarta, namun belum ada kesempatan. Akhirnya ketika kesempatan itu datang, saya langsung memaksimalkan tujuan saya. Namun sangat disayangkan eksplorasi kota Yogya kali ini tidak ditemani mario…huhuhu. Waktu empat hari di Yogya cukuplah bagi saya untuk menjelajah (biar jelas, maksud menjelajah disini artinya menjelajah tempat belanja di Yogya…hehehe). Dan beginilah cerita jelajah saya dimulai…

Saya naik kereta Sancaka pukul 07.00 dari arah Surabaya menuju Yogya. Sampai di Yogya sekitar pukul 12.00. Saya langsung memesan tiket pulang untuk hari selasa menuju Jakarta. Ternyata counter pemesanan tiket sudah dipadati mereka yang juga ingin memesan tiket balik. Jadwal kereta ke Jakarta untuk hari minggu dan senin sudah habis. Untunglah, untuk hari selasa masih tersedia cukup banyak. Setelah tiket sudah ditangan, saya bergegas keluar stasiun menuju malioboro. Rencananya saya akan mencari hotel di daerah Dagen, malioboro supaya lebih dekat kemana-mananya. Ketika saya masuk ke Jl. Dagen ternyata hampir semua hotel Full dari ujung sampai ujung. Apakah karena ini musim liburan (tapi setahu saya, anak-anak sekolahan sudah masuk sekolah semua) atau karena ini adalah weekend sehingga banyak yang berlibur di sabtu-minggu ini. Akhirnya, masih ada tersisa satu kamar untuk hari itu di salah satu hotel. Kisaran tarif hotel di Jl. Dagen antara 200 ribu sampai dengan 500 ribu. Namun di dalam gang-gang kecil masih banyak guest house yang kisaran tarifnya lebih murah, cocok untuk mereka yang ingin tinggal lebih lama di Yogya atau para backpacker (walaupun saya juga termasuk tipe backpacker karena membawa tas punggung namun kali ini saya pilih tinggal di hotel deh…hehe).

Setelah menaruh tas punggung dan berisitrahat sejenak, saya memulai perjalanan saya di Yogya. Tujuan pertama saya ke keraton dan alun-alun selatan. Dari malioboro jalan kaki sampai alun-alun utara sambil sesekali memotret sudut-sudut menarik di yogya. Saya tidak sempat masuk ke dalam keraton karena jadwal buka hanya sampai pukul tiga sore. Lalu saya menuju alun-alun selatan naik becak. Disana terkenal dengan adanya pohon beringin kembar yang berada di tengah lapangan besar. Dan dipercaya bagi mereka yang bisa jalan lurus dengan mata tertutup dari arah depan sampai ke tengah-tengah pohon beringin maka doa atau harapannya akan terkabul. Tadinya saya malas untuk mencobanya. Namun akhirnya penasaran juga untuk mencoba. Saya menutup mata dengan syal saya dan mulai berjalan lurus (menurut saya). Ajaib, langkah saya berbelok ke kanan tepat ketika hampir memasuki jalur tengah kedua pohon beringin. Entah apa yang membelokkan dan kenapa baru belok persis ketika saya hampir masuk jalur tengah tersebut, perasaan sih jalannya lurus-lurus saja…mungkin ada yang membelokkan yaa hehe *percaya tidak percaya*.

Dari alun-alun selatan, saya kembali menyusuri malioboro dari ujung sampai ujung. Setiap jengkal dagangan tidak luput dari pandangan mata hehe. Saya juga mampir ke toko Mirota batik dan kerajinan, yang terletak di malioboro depan pasar bringharjo. Tempat oleh-oleh yang cukup lengkap (menurut saya) karena menjual berbagai macam aneka kerajinan, minuman tradisional kemasan, kaos dan batik. Bagi mereka yang tidak terlalu suka kegiatan tawar-menawar harga, cukuplah dengan belanja oleh-oleh disini karena harganya pun tidak terlalu mahal, bahkan cukup reasonable (dibandingkan dengan toko diluar yang menjual barang sama namun dengan harga lebih mahal). Namun bagi mereka yang suka tawar-menawar harga maka belanjalah di malioboro sampai puas…hehehe.

Ketika kita menginjakkan kaki di jl malioboro pastilah langsung terlihat kerumunan becak dan andong disana. Dan uniknya, hampir semua tukang becak meneriakkan hal yang sama, “becaknya mba, ke tempat oleh-oleh bakpia (pusatnya), dagadu (yang asli) dan pusat batik, 5000 saja mba.” Namun di beberapa hari kemudian, saya sempat juga mendengar “becaknya mba, ke tempat bakpia, 3000 saja.” Ehem, benarkah pulang-pergi hanya 5000 saja? Iya benar, namun hanya untuk satu orang. Kalau kita berdua, maka ketika turun pak becak akan minta tambahan uang karena 5000 hanya untuk satu orang. Lalu bagaimana kalau kita ingin ke tempat lain yang berdekatan juga namun bukan tempat yang diajukan pak becak? Yak, ternyata pak becak akan menyarankan dengan sekuat tenaga bahwa tempat batik atau kaos pilihannyalah yang paling bagus dan murah. Kalau yang disana mahal-mahal mba, ini yang disini saja. Hmm…terserah saya deh ya pak mau masuk ke toko yang mana, lagian saya juga ngga akan beli kok…cuma liat-liat aja…oke?! Lalu bagaimana ketika kita ingin turun di tempat yang berbeda dari tempat kita naik tadi (walaupun sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat saya naik tadi)? Yak, ternyata pak becak akan minta tambahan uang karena katanya jadi lebih jauh. Sebenarnya kalau saja pak becak tidak meminta tambahan uang, saya pasti akan memberi tambahan (dengan ikhlas)…namun ketika pak becak minta tambahan lebih besar (dari yang akan saya berikan) jadinya kok sebal juga ya sama tukang becak. Hmm.

Hari sabtu-minggu, Yogya benar-benar ramai. Daerah malioboro benar-benar penuh sesak dengan turis lokal dan asing. Yaa, sepanjang mata memandang, baru kali ini saya melihat Yogya ramai dengan turis asing. Mungkin bulan ini adalah musim liburan bagi mereka sehingga hampir semua sudut pasti terlihat turis asing. Ada bule naik becak, bule naik andong, bule jalan di malioboro, bule di mall, bule di alun-alun selatan dan utara, bule di mana-mana! :D Banyak diantara mereka yang jalan bersama pacarnya, keluarganya ataupun pacar/istri lokalnya atau bule cewek yang diantar guide (cowok) lokal. Jadi selain Bali dan Lombok yang ramai turis asing, Yogya juga sudah mulai ramai dengan turis mancanegara (atau jangan-jangan hanya saya saja yang baru lihat Yogya ramai dengan bule yaa :P ).      

Rencananya hari ini saya ingin makan gudeg yu djum di daerah winjilan. Ternyata saya sudah kehabisan…waah, sebegitu enaknya kah sampai belum jam 12 siang si gudeg sudah habis? Mungkin ada yang pesan satu kuali kali yaa! Akhirnya saya coba gudeg lain di daerah situ juga. Penasaran dengan gudeg yu djum, yang katanya enak, saya berencana untuk ke kaliurang (rumah yu djum) besok siang. Katanya gudeg yu djum ada dua cabang di yogya, satu di daerah winjilan, satu lagi di rumahnya di kaliurang km 4,5.

Setelah makan, saya pergi ke pusat pembuatan bakpia 25. Salah satu yang khas dari Yogya selain gudeg adalah bakpia, oleh-oleh wajib bagi mereka yang dari Yogya. Kalau gudeg diasosiasikan dengan nama si penjual, misal gudeg yu djum, gudeg bu widodo, gudeg hj. rini, dll maka bakpia diasosiasikan dengan nomor. Ada beberapa macam bakpia disini, misal bakpia 25, bakpia 75, bakpia 77, bakpia 55, dll. Kenapa bakpia diasosiasikan dengan nomor? Ini yang belum sempat saya tanyakan. Mungkin biar lebih mudah untuk diingat ya? Tapi kalau saking banyaknya series nomor bakpia yang ada, jadi lupa dulu makan bakpia yang enak yang nomor berapa ya? Tapi sebenarnya ini semua sih kembali ke seberapa baiknya ingatan kita untuk mengingat nama ataupun nomor saja, iya kan? :D . Sampai di pusat bakpia 25, saya ditanya mau melihat cara pembuatan bakpia di dapur mereka atau tidak. Tentu langsung saya iyakan. Dan saya diantar ke dapur mereka di belakang, disisi kanan diisi para pekerja pria dan disisi kiri diisi dengan pekerja wanita, masing-masing sedang duduk berbaris memanjang sibuk membentuk adonan bakpia dengan isi macam-macam, kacang ijo, keju, coklat, dll. Sempet sih terbesit kok mereka tidak menggunakan plastik (untuk membungkus tangan mereka) ya saat membuatnya, tapi mungkin justru dengan adonan langsung di ”umek-umek” (dibentuk menjadi bentuk bakpia) di tangan malah membuat bakpianya jadi enak yaa…hehehe!


2 Responses to “Yogya – part #1”


  1. August 3, 2011 at 2:47 am

    Sama siapa nggi ke Jogja?
    Gw udah puas jalan2 Jogja pas mahasiswa PL di Semarang, jalan2 ke Jogja, Salatiga, Ambarawa dsk… :)
    Beringin kembar juga pernah tapi pas malam2, sambil minum wedang jahe di sana… :) Rame bener loh kalau malam minggu di sana, banyak banget pengendara motor..

    • August 11, 2011 at 9:32 am

      Iya, katanya kalau malam ramai banget yah… tapi kalau malam ngga lebih spooky ya pas jalan ke tengah beringin kembar….hihihi
      Kmr 4 hari disana….explore beberapa tempat sampe puas juga :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


 

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categories

anggitweet

  • Akhirnya kenzie lahir di hari senin, 7 mei pukul 15.36 wib. Beratnya 2 kg dan panjang 44 cm. Alhamdulillah :) 4 days ago
  • Berusaha utk kuat & tegar atas sgala sesuatunya. Tp teteeup deg2an pas mau msk ruang operasi,apalagi pas mau suntik anestesi..hehe. #kenzie 4 days ago
  • Di hari brktnya tnyata leukosit meningkat & dktr lgsg ambil tindakan operasi caesar.Dikabari jam stgh 12, jam 3 lgsg operasi. #kenzie 4 days ago
  • Dktr trs memantau perkembangan janin&kondisiku.Index air ktuban turun di hari kedua.Namun smpt ada kenaikan index di hari brktnya. #kenzie 4 days ago
  • Pas nunggu dktr tnyta cairannya mkn bnyk kluar.Akhirnya aku diminta msk ruang bersalin utk periksa.Hari itu dputuskan lgsg opname. #kenzie 4 days ago

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.