Hari ketiga saya melanjutkan jelajah tempat belanja di Yogya. Touring ke beberapa tempat kerajinan menggunakan taksi. Awalnya hanya niat ke satu tujuan A namun ketika tanya-tanya berapa lama perjalanan ke B, C dan D akhirnya supir taksi berinisiatif untuk menunggu dan mengantarkan saya ke tempat lainnya. Asiiik…lumayanlah jadi dapat mobil carteran seharian….hehe. Tujuan pertama saya adalah kota gede, tempat kerajinan perak. Awalnya saya kira kota gede seperti daerah sekarbela, pusat mutiara di Lombok yang ramai dengan toko-toko kecil sepanjang jalan sekarbela. Ternyata disana hanya ada satu (atau dua) pusat kerajinan perak saja, namun memang tempatnya cukup besar untuk menjadi pusat kerajinan perak. Mungkin semua pengrajin kecil mensupply bahan setengah jadi mereka kesini dan akhirnya finishing dikerjakan di pusat toko ini. Dan harganya lumayan mahal untuk perhiasan maupun beragam pajangan dari perak. Jadinya cukup lihat-lihat aja deh…hehe.

Tujuan selanjutnya adalah tempat kerajinan kulit di daerah manding, bantul. Lumayan jauh kesana ternyata. Kalau kasongan, tempat kerajinan gerabah, ada di daerah bantul kota…manding masih jauh ke pelosoknya. Sampai di manding, disana ada beberapa toko kerajinan kulit sepanjang jalan walaupun tidak terlalu banyak. Saya mulai menyusuri dan memasuki setiap toko yang ada. Toko kerajinan kulit disini mengingatkan saya dengan pusat kerajinan kulit yang ada di daerah tanggulangin, Sidoarjo. Hanya saja di tanggulangin tokonya lebih banyak dan variatif sehingga kita bisa menghabiskan waktu seharian untuk menjelajah setiap tokonya. Sedangkan di manding tokonya sedikit dan cenderung sepi. Dan sayangnya, beberapa toko yang sebenarnya menjual tas kulit yang menarik namun karena tas-tas tersebut tidak dikemas dengan baik dalam plastik membuat tas tersebut banyak yang berdebu. Barang yang dijual disana seperti tas, sepatu, sandal, dompet, ikat pinggang dan jaket yang semuanya terbuat dari kulit. Namun ternyata bahan untuk kulit jaket banyak yang didatangkan dari daerah jawa barat, yang memang terkenal sebagai tempat kerajinan kulit.

Setelah puas menyusuri semua toko di manding, tujuan selanjutnya adalah tempat tas merek Dowa di daerah godean. Tas rajut yang sudah banyak diekspor ke luar negeri dan berskala internasional. Bahan rajut yang halus dengan kualitas terbaik menjelaskan harga mereka yang termasuk mahal (menurut kantong saya). Di samping kiri gerai ada poster bertuliskan produk sisa ekspor dengan merek berbeda yaitu the sak. Walaupun bahan rajutan tidak sehalus produk unggulannya namun kualitasnya lumayan juga dan harganya yang lebih terjangkau…hehe.
Setelah selesai keliling tempat kerajinan seharian baru sadar kalau ternyata saya belum makan siang, pantesan perut sudah mulai kruyuk-kruyuk daritadi…hehe. Saya mencoba menu ayam goreng dengan sambal ijonya di restoran lombok ijo. Satu porsi ayam goreng hanya seharga 7.500 rupiah…murah yaa? Kalau urusan makanan, disini semuanya serba murah meriah deh. Kalau di Jakarta, katakanlah sekali makan untuk satu orang menghabiskan setidaknya 50.000 rupiah, di Yogya 50.000 rupiah itu habis untuk makan tiga orang….mantaab ngga tuh?

Hari terakhir di Yogya, saya sempatkan untuk keliling ke daerah kaliurang. Lihat kampus UII dan UGM dari luar, mampir ke mirota kaliurang dan lanjut makan siang di gudeg yu djum kaliurang. Mirota kaliurang agak lebih sepi dibanding dengan di malioboro tapi barang-barangnya tidak kalah beragam dan menariknya. Melihat barang yang unik dan menarik rasanya perlu pengendalian diri yang kuat untuk menahan godaan membeli semua barang tersebut…hehe. Setelah puas di mirota, saya beranjak ke tujuan selanjutnya yaitu gudeg yu djum di kaliurang km 4,5. Apa yang membedakan gudeg satu dengan gudeg lainnya? Isinya hampir sama, sayur lodeh nangka, krecek, telor dan ayam namun untuk rasa tentulah tidak sama. Beberapa hari kemarin makan gudeg juga tapi rasanya biasa saja namun ketika mencoba gudeg yu djum….rasanya memang berbeda dari yang lain….rasanya enak, bumbunya terasa, rasa pedas dari krecek juga menambah kenikmatan rasa gudeg tersebut. *iklan tidak berbayar* Hmm…apa kira-kira bumbu rahasianya yaa? Hehehe. Katanya ada lagi yang terkenal disini yaitu gudeg ceker. Nah, yang ini belum sempat dicoba karena tempatnya yang agak jauh disebelah utara Yogya dan waktu yang sudah tidak memungkinkan. Tapi udah kebayang sih seperti apa, pastinya gudeg yang dicampur dengan ceker ayam….yaa, secara saya sendiri tidak terlalu suka dengan ceker maka tidak terlalu antusias untuk mencoba juga….hihihi.

Selesai dari kaliurang sore hari, saya masih punya waktu untuk jalan-jalan di sekitar malioboro lagi karena jadwal kereta ke Jakarta malam hari. Kembali saya susuri malioboro untuk yang terakhir kalinya dari ujung sampai ujung. Ada beberapa pemuda bermain angklung sambil menyanyi di pinggiran jalan malioboro dan orang-orang sekitarnya turut berjoget ria mengikuti irama musik. Menarik melihat mereka mengamen dengan menggunakan angklung dan alat musik tradisional lainnya. Setelah menikmati musik tersebut, saya kembali berjalan menyusuri malioboro.

Ketika keluar dari sebuah toko, saya sempat melihat ada keributan di jalanan. Entah ada apa. Namun karena penasaran, akhirnya saya mencoba bertanya ke salah satu penjual disana.
“ada ramai-ramai apa ya bu?”
“itu mba, ada polisi lagi ngejar tukang becak”
“loh emang knapa dengan tukang becaknya?”
“tadi ada ibu sama anaknya lagi jalan mau masuk ke pasar, trus pak becak nawarin becaknya. Katanya si ibu sudah menggeleng ‘tidak’ ke pak becak. Namun pak becak terus berusaha menawarkan becaknya. Dan si ibu terus diam saja.
Pak becak trus ngomong; “ayu-ayu kok bisu kabeh” Nah, si ibu ngga terima, pak becaknya dikejar sama si ibu. Dan ternyata suami si ibu adalah seorang polisi, mungkin si ibu lapor ke suaminya akhirnya ibu tadi dibantu polisi di sekitar situ mengejar pak becak yang sudah lari duluan. Karena tidak terkejar, akhirnya becaknya yang diangkut sama polisi.”
“……”
“saya sih kasian yaa mba sama tukang becaknya. Kita ini kan wong cilik. Tapi ya jadi pembelajaran juga sih untuk mereka jadinya…ngga boleh sembarangan ngomong.”
Entah siapa yang benar siapa yang salah. Perkara kecil seperti ini sampai urusan ke polisi. Duh pak becak, seharusnya bapak tidak perlu ngomong seperti itu…tawarkanlah jasa bapak dengan baik dan sopan. Pasti kalau kami butuh naik becak, dengan senang hati kami akan naik becak bapak. Namun kalau memang kami tidak butuh naik becak, ijinkan kami untuk menolak tawaran bapak. Mudah kan? Wahai si ibu yang bersuamikan seorang polisi, saya tahu bahwa ibu tersinggung tapi cukuplah dengan membalas ucapan tukang becak dengan kata-kata yang lebih baik namun cukup membuat pak becak menyadari kesalahannya, tanpa harus memperumitnya dengan memanggil polisi untuk turun tangan. Semoga akhir cerita tukang becak dan si ibu akan baik-baik saja, berdamai dan saling berjabat tangan.
Akhirnya, saya melanjutkan tujuan akhir saya ke stasiun tugu. Saya naik kereta malam pukul 10.00 menuju Jakarta. Sembari menunggu kereta datang, saya menghabiskan waktu membaca novel yang saya bawa namun belum sempat terbaca selama perjalanan. Tidak sabar untuk menanti perjalanan saya selanjutnya….dengan mario tentunya, hehehe!
Gw jadi agak males makan gudeg di Jogja karena pernah baca katanya kuahnya dicampur darah ayam. Dan itu sudah lumrah katanya di sana. Semoga yang lu makan ngga hehehe…
Oya? baru denger nih…. Yaa, bismillah aja deh yang kmr….hehe