Hmm, acaranya menarik tidak yaa (pikir saya) ketika seorang teman yang sangat apresiasi terhadap filsafat dan seni mengajak saya untuk datang ke acara pembacaan puisi penyair terkenal Bapak Sapardi Djoko Damono. Jarang-jarang saya datang ke acara seperti itu (pikir saya lagi), namun ada ketertarikan tersendiri untuk ikut serta karena saya ingin tahu seperti apa sih acaranya. Acara pembacaan puisi yang diadakan di Salihara ini ternyata tidak hanya menampilkan Bapak Sapardi saja sebagai pembaca puisi namun ada 4 orang penyair lainnya yang turut serta membaca puisi secara bergiliran. Pada awal pembacaan puisi oleh seorang penyair, agak (sedikit) susah bagi saya untuk mencerna apa yang mereka bacakan karena menurut saya bahasa sastra memiliki arti yang tidak mudah untuk diartikan bagi orang awam, khususnya saya
.
Namun satu hal yang membuat saya terpaku adalah cara para penyair itu membacakan puisinya masing-masing seperti seorang yang sedang mendongeng atau seorang ibu/ayah yang sedang menceritakan sebuah cerita kepada anaknya. Saya jadi ‘semangat’ mendengarkannya, walaupun (teteup) ada beberapa puisi yang tidak saya mengerti (arti harafiahnya)
Salah satu puisi “menarik” yang dibacakan oleh Bapak Sapardi adalah “Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari”. Berikut petikan puisinya;
“Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang, Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan, Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami yang telah menciptakan bayang-bayang, Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa diantara kami yang harus berjalan di depan”

Recent Comments