23
Apr
18

Anak Kedua

Bulan Januari, empat tahun lalu, jadwalnya kontrol mingguan biasa (usia kandungan masuk 33 minggu) ke dokter kandungan. Tapi kontrol kali ini berbeda dari biasanya karena ternyata indeks air ketuban ku ada di bawah indeks yang seharusnya. Istilah kedokterannya sih oligohidramnion. Kemungkinannya adalah air ketuban merembes, karena tidak pecah ketuban ataupun ada cairan yang keluar. Namun kemungkinan lainnya juga pasti ada, mengingat kehamilan pertama pun aku mengalami masalah kelahiran yang belum pada waktunya.


Hari itu juga langsung diberi suntikan penguat paru-paru bayi, dan selang dua hari harus kontrol ke rumah sakit untuk disuntik penguat paru-paru lagi, untuk tiga kali suntik. Kebetulan dokterku orangnya (agak) santai, akhirnya aku ikutan santai hehe. Budok: “okeh, jadi ini masih kita tunggu beberapa hari ke depan gimana perkembangannya.” Maksudnya, kalau perkembangannya baik akan coba dipertahankan sampai waktunya.
Setelah disuntik yang kedua, eh besoknya jadwalnya paksu #on ke laut. Padahal sih kalau udah begini harusnya paksu udah siyap siaga nungguin ya, secara tiba-tiba bisa lahiran kan haha. Tapi akhirnya berangkat kerjalah paksu. Im fine, no worry *sok kuat*


Selang satu hari, aku harus kontrol ke rumah sakit lagi, tadinya mau berangkat sendiri, si kakak dititip di rumah eyangnya. Tapi karena bapakku ngga tega, jadinya dianterin hehe. Ngga kebayang juga jadinya kalau berangkat sendiri dan ada urgensi tindakan. 😅 Begitu kontrol, langsung di-usg sama budok, ternyata hasil usg nya kurang bagus karena ngga ada gerakan bayi. Akhirnya langsung dibawa ke ruang bersalin untuk tes ctg. Hasil tes ctg nya pun kurang memuaskan. Aku sempat terdiam sebentar dan berpikir, duh gusti kenapa ini? Dan budok pun terdiam dalam hening. Setelah itu budok menyarankan untuk sarapan dulu agar ada asupan ke bayi. Mungkin budok berasumsi karena belum ada asupan maka gerakan bayinya kurang aktif.
Setelah sarapan, di periksa lagi semua indikator, tapi ternyata hasilnya juga belum bagus. Akhirnya dokter aku memutuskan untuk operasi cesar saat itu juga.

Budok: “bagaimana kalau operasi sekarang bu? soalnya tim dokter nya juga sudah lengkap” jadi sebelum aku diperiksa tadi, bu dokter (dan tim nya) abis ada tindakan SC. Tetiba aku jadi pasien “cito-sc”. Antara kaget harus langsung operasi dan bersyukur tim dokter sudah siyap. 😌


Masih syok karena harus tindakan dan ngga ada paksu yang nemenin. Tapi akhirnya diputuskan, ikut saran terbaik dari dokter saja. Dan, persiapan diri untuk operasi pun dimulai. Pertama, menyiapkan mental dulu karena kali ini masuk ruang operasi sendirian. Kedua, banyak berdoa agar operasi dilancarkan.

Masuk ruang operasi kali ini lebih deg-deg-an dari yang pertama karena minim persiapan, dan sebelum masuk ruang operasi sempat bolak-balik ke kamar mandi karena beser haha. Sampe ruang operasi, dinggiin bangeett ruangannya kayak di kutub utara. Masuk situ langsung membeku tiba-tiba. Dan, suntikan anastesi lah yang buat merinding soalnya kali ini sampai beberapa kali ngga tembus, karena urat nadi yang tipis 😦
Alhamdulillah, akhirnya anak keduaku lahir dengan selamat. Bahagia tak terbendung. ❤

Advertisements
20
Feb
18

Embun Pagi

Aku telat datang pagi itu. Aku salah prediksi waktu berangkat dan sedikit kena macet. Belum lagi sibuk dengan persiapan makanan untuk si kakak, jadi membuat aku agak terburu-buru pagi itu. Ketika aku sampai rumah sakit, ternyata kamu baru saja lahir. Ah aku ikut bahagia. Kami semua bahagia menyambutmu ke dunia. Kakek nenekmu bahagia, orangtuamu sudah pasti. Bahagia.



Aku berjalan menyusuri lantai khusus anak untuk mencari dimana kamu berada. Ingin segera melihat senyum manismu. Namun aku tidak bisa langsung melihatmu, karena begitu kamu lahir, kamu langsung dibawa ke sebuah ruangan khusus, ruang nicu. Dan tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruang tsb. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, dari luar ruangan berkaca. Aku bisa melihatmu samar-samar. Aku melihatmu berjuang dengan kuat untuk bisa bertahan. Ayahmu terus menyemangati dan mendoakan disampingmu. Dari kejauhan pun aku turut menyemangatimu, ayo kamu bisa Embun. Ayo semangat! Bolak-balik para suster memeriksa keadaanmu. Begitu banyak selang dipasang di tubuh mungilmu. Tak terasa mataku berkaca-kaca. Kami berdoa untukmu. Supaya kamu kuat, supaya kami pun kuat.


Aku pergi meninggalkanmu sebentar kebawah. Namun tidak berapa lama, kami mendapat kabar kalau kamu sudah tidak bertahan. Begitu singkat kamu hadir di dunia, Embun. Tapi kamu sudah memberi arti dan kehadiranmu sungguh membekas di hati kami. Aku yakin kamu ada di surganya Allah. Menjadi malaikat kecilNya. Menjadi penjaga pintu surgaNya 😇😇 Aku yakin kamu akan menjadi penolong bagi orangtuamu ke surga kelak. InsyaAllah.



Kami semua pun pada akhirnya akan menyusulmu kesana. Tinggal menunggu antrian. Semoga kami pun bisa termasuk orang-orang yang dimasukkan Allah ke dalam surgaNya. Semoga bekal amalan baik kita di dunia bisa menjadi bekal amalan terberat di akhirat nanti. Aamiin.
Semoga kita bisa berkumpul kembali di surgaNya. 🌈🌻

10
Feb
18

Anak pertama

Kamis pagi, enam tahun lalu, tiba2 harus segera ke dokter karena ada rembesan (usia kehamilan msh 8 bln). Mungkin karena ini anak pertama jadi aku msh bingung juga antara yakin dan tidak klo ini adalah air ketuban. Berangkatlah ke rs utk periksa. Karena rumah sakit nya depan komplek, deket aja, jalan lah ke rs (dgn santai). Sama siapa? Sendirian lah, berhubung bapake baru berangkat kerja kmr pagi ke laut. 😐
Smp rumah sakit lgsg daftar, berhubung dokter obgyn ku pas lagi ngga praktek, jadi daftar lah ke dokter lain. Trus ngantri dipanggil, dan lumayan lama juga nunggu antrian. Ternyata rembesan makin lama makin banyak. Sempet ganti ke kmr mandi juga 😆 sampe akhirnya nanya ke suster, dokter nya msh lama atau ngga soale sy ada rembesan.
Susternya lgsg nanya dokter obgyn ku siapa dan lgsg di kontak. Ternyata setelah nelp dokternya, aku diminta lgsg dibawa ke ruang bersalin, nanti dokternya akan datang dan segera periksa.
Apaa? Langsung ruang bersalin ini sus? *kaget eui, aku blum siyap lahiran inih. Blum siyap apa2 blum siyap lahir batin* Okeeh, ruang bersalinnya dimana sus?
Aduuh ibu, ibu udah ngga boleh jalan, ibu harus pake kursi roda, sebentar sy siapkan. 😑
.
Sampai ruang bersalin, lgsg dicek dan ricek sm susternya. Ternyata ini sih bukan rembes lagi bu, ini udh pecah ketuban 😓 pas diperiksa sm dokter, ternyata skala air ketuban udah dibawah standar (yang harusnya ada di angka 10, aku di angka 6). Akhirnya aku hrs bed rest dlu, berhubung usia kehamilan masih 33 mgg, dokter coba pertahanin sampai usia kandungan lebih matang.
Akhirnya harus bed rest di rs, bener2 bed rest, ngga boleh turun dari tempat tidur sama sekali. Selama bed rest, setiap hari disuntik cairan untuk pematangan paru2 bayi. Dan tiap hari diambil darah juga untuk di cek lab. Semuanya diperiksa. Masih dalam batas aman atau ngga.
.
Sebenernya sih klo udah kondisi begini, udah harus siyap mental ya kapan aja hrs siyap dibawa ke ruang operasi 😓
tapi aku msh (mencoba) tenang bahwa gak akan segera dioperasi, secara dokternya bilang akan coba pertahanin dlu (emang siy dokterku agak santai orangnya, ato bilang gitu biar aku nggak panik kali ya), daan masih nanti2 laah operasinya haha 😅
Oia alhamdulillah bapake bisa dpt ijin golden ticket buat pulang krn istri melahirkan. Setelah tiga hari bed rest, di hari keempat ternyata ‘panggilan’ itu datang. Dari hasil lab pagi itu, ternyata leukosit ku tinggi (lupa brapanya), yang artinya aku harus segera masuk ruang operasi. Okelah, setelah dua jam persiapan (puasa dan mental) akhirnya aku duduk (eh, tiduran deng) di meja operasi. Dokter anastesi siyap2 buat suntik bius di sumsum tulang belakang. Sebenernya ya ini nih yg bikin deg-deg-an……suntikan anastesi hehe. Suasana ruang operasi dibikin sesantai dan setenang mungkin (biar ngga bikin panik pasien trus pasien lari nggak jadi operasi 😓) jadi yaa selama di meja operasi, aku ngedengerin musik klasik yang diputer dan obrolan para dokter hehehe. Alhamdulillah akhirnya anak pertama kami lahir dengan selamat. Bahagia tak terbendung.

27
Feb
12

Second Opinion

Pernah ngga pergi ke dokter karena ada suatu keluhan dengan bagian tubuh kita dan tiba-tiba langsung divonis dengan suatu penyakit berat? Atau ketika ke dokter dan dokternya malah membuat kita takut dengan penjelasan penyakit yang kita alami? Nah, disinilah perlunya kita menjadi pasien cerdas *alah bahasanya*. Poinnya sih, kita perlu untuk mencari pendapat kedua/ketiga dari dokter lain untuk memastikan penyakit yang kita alami. Bukan apa-apa, hanya saja terkadang dokter cepat menyimpulkan sesuatu yang menurutnya sesuai gejala umum namun ternyata hasilnya negatif (setelah pemeriksaan lebih intensif).

Sekitar sebulan yang lalu, ada kejadian yang terjadi dengan adik ipar yang berhubungan dengan sakit di perutnya. Beberapa bulan belakangan dia sering merasa nyeri di perutnya, tempatnya berpindah-pindah kadang sebelah kiri, kanan atau atas perut. Kemudian sempat pergi ke dokter umum langganan, dokter menyatakan dilihat dari gejalanya itu adalah usus buntu dan harus segera dibawa ke rumah sakit, karena penanganan penyakit usus buntu adalah dengan operasi. Kemudian orangtua membawa adik ke salah satu rumah sakit tidak jauh dari rumah. Disana konsul ke dokter bedah umum. Dokter bedah ternyata juga langsung menyimpulkan bahwa itu adalah penyakit usus buntu, berdasarkan gejala dan diagnosanya. Dan ia menyarankan untuk segera rawat inap, kemudian nanti akan dilakukan pemeriksaan lanjutan dan kalau memang hasilnya positif usus buntu maka akan dijadwalkan untuk segera operasi. Pertanyaannya adalah kenapa harus langsung rawat inap sebelum dipastikan secara medis (dengan pemeriksaan lab/usg/rontgen/dll) penyakitnya apa. Bukannya untuk pemeriksaan medis bisa dilakukan tanpa harus rawat inap?

Continue reading ‘Second Opinion’

02
Feb
12

Home Sweet Home

Lama tidak mengupdate blog rasanya seperti ada sesuatu yang kurang yah, seperti makan tanpa sambal hehe. Rasanya rindu juga untuk menulis kembali setelah setengah tahun tidak bersua. Long time no see you my blog hehe.

Walaupun sebenernya belum ada ide mau nulis tentang apa sih. As a usual, menulis hal-hal ringan aja lah yah hohoho. Jadi begini saudara sekalian, beberapa bulan belakangan ini saya sudah mulai hidup mandiri, walaupun sebenarnya kalimat itu setengah tepat ya karena saya masih sering menginap ke rumah orangtua juga :p. Intinya sih udah mulai lah merasakan menata rumah sendiri dan seru juga ternyata hehe. Banyak yang diurusin sendiri sekarang, mulai dari hal-hal kecil seperti beli perlengkapan rumah sampai hal besar seperti ngebor sumur air lebih dalam. Nah untuk urusan yang besar-besar ini saya serahkan sepenuhnya pada ahlinya aja lah a.k.a mario hahaha. Hal-hal kecil pun ngga ada habisnya juga tapi perlahan (tapi pasti) bisa juga dicicil-cicil kebutuhannya hehe. 😀

Continue reading ‘Home Sweet Home’

25
Jul
11

Yogya – part #2

Hari ketiga saya melanjutkan jelajah tempat belanja di Yogya. Touring ke beberapa tempat kerajinan menggunakan taksi. Awalnya hanya niat ke satu tujuan A namun ketika tanya-tanya berapa lama perjalanan ke B, C dan D akhirnya supir taksi berinisiatif untuk menunggu dan mengantarkan saya ke tempat lainnya. Asiiik…lumayanlah jadi dapat mobil carteran seharian….hehe. Tujuan pertama saya adalah kota gede, tempat kerajinan perak. Awalnya saya kira kota gede seperti daerah sekarbela, pusat mutiara di Lombok yang ramai dengan toko-toko kecil sepanjang jalan sekarbela. Ternyata disana hanya ada satu (atau dua) pusat kerajinan perak saja, namun memang tempatnya cukup besar untuk menjadi pusat kerajinan perak. Mungkin semua pengrajin kecil mensupply bahan setengah jadi mereka kesini dan akhirnya finishing dikerjakan di pusat toko ini. Dan harganya lumayan mahal untuk perhiasan maupun beragam pajangan dari perak. Jadinya cukup lihat-lihat aja deh…hehe. Continue reading ‘Yogya – part #2’

21
Jul
11

Yogya – part #1

Dari beberapa waktu lalu, saya ingin sekali menjelajah kota Yogyakarta, namun belum ada kesempatan. Akhirnya ketika kesempatan itu datang, saya langsung memaksimalkan tujuan saya. Namun sangat disayangkan eksplorasi kota Yogya kali ini tidak ditemani mario…huhuhu. Waktu empat hari di Yogya cukuplah bagi saya untuk menjelajah (biar jelas, maksud menjelajah disini artinya menjelajah tempat belanja di Yogya…hehehe). Dan beginilah cerita jelajah saya dimulai…

Saya naik kereta Sancaka pukul 07.00 dari arah Surabaya menuju Yogya. Sampai di Yogya sekitar pukul 12.00. Saya langsung memesan tiket pulang untuk hari selasa menuju Jakarta. Ternyata counter pemesanan tiket sudah dipadati mereka yang juga ingin memesan tiket balik. Jadwal kereta ke Jakarta untuk hari minggu dan senin sudah habis. Untunglah, untuk hari selasa masih tersedia cukup banyak. Setelah tiket sudah ditangan, saya bergegas keluar stasiun menuju malioboro. Rencananya saya akan mencari hotel di daerah Dagen, malioboro supaya lebih dekat kemana-mananya. Ketika saya masuk ke Jl. Dagen ternyata hampir semua hotel Full dari ujung sampai ujung. Apakah karena ini musim liburan (tapi setahu saya, anak-anak sekolahan sudah masuk sekolah semua) atau karena ini adalah weekend sehingga banyak yang berlibur di sabtu-minggu ini. Akhirnya, masih ada tersisa satu kamar untuk hari itu di salah satu hotel. Kisaran tarif hotel di Jl. Dagen antara 200 ribu sampai dengan 500 ribu. Namun di dalam gang-gang kecil masih banyak guest house yang kisaran tarifnya lebih murah, cocok untuk mereka yang ingin tinggal lebih lama di Yogya atau para backpacker (walaupun saya juga termasuk tipe backpacker karena membawa tas punggung namun kali ini saya pilih tinggal di hotel deh…hehe). Continue reading ‘Yogya – part #1’




September 2018
M T W T F S S
« Apr    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Categories

anggitweet

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Advertisements